Selasa, 22 November 2011

Sebuah Episode “Ghozwul Fikri”


Media memang memiliki kekuatan yang luar biasa. Dengannya, nggak ada lagi kata “jarak” dan “rahasia”. Melaluinya, kita selalu bisa tahu apa yang terjadi nun jauh di sana, bahkan yang seharusnya jadi rahasia dan yang paling hebat, pola pikir manusia juga bisa dikendalikan. Sayangnya kebanyakan media dikuasai pihak yang kurang tepat, sehingga cuma dijadikan ajang pengeruk keuntungan tanpa peduli apa dampaknya bagi masyarakat luas. 

Naaah, sayangnya masyarakat kita nggak nyadar juga kalo mereka cuma “dibodohi”. Buktinya, semakin negatif suatu berita, semakin heboh dan menjual berita itu. Secara umum berita yang paling diminati adalah berita dari dunia entertainment. Saya sendiri kurang rajin menyimaknya, tapi memang kadang karena terlalu populernya gosip itu, mau nggak mau saya dengar lalu ikutan penasaran :hammer.

Yang ingin saya soroti di sini adalah materi ‘berita’ itu sendiri. Sesuatu yang aslinya tabu, jika dilakukan seorang public figure seolah-olah menjadi sesuatu yang sah-sah saja. Si artis ini hamil nggak ketahuan siapa bapaknya, si artis ini ke-gap lagi make narkoba, si artis ini tinggal serumah dengan pacarnya, dan berita lain yang bikin saya geleng-geleng kepala. Yang lebih parah, banyak seleb yang pindah jenis kelamin. Kebanyakan sih pindah dari cowok ke cewek, malah ada yang pake jilbab segala. Astaghfirullah, kebaikan dan kebatilan emang sudah campur aduk, dan itu disaksikan oleh seluruh lapisan masyarakat. Para pelaku berlindung dibalik kata2 Hak Asasi Manusia. Saya yakin mereka nggak memperhatikan pelajaran Kewarganegaraan waktu sekolah dulu. Guru kita selalu mengulang-ulang bahwa hak kita tidak tak terbatas, dan yang membatasinya adalah hak orang lain. Tuh kan, kita hidup bersama di bumi dengan penduduk yang terus bertambah namun luas dan SDA-nya tetap. Kalau masih mau ngotot  berbuat seenaknya dengan mengatasnamakan HAM, saya kasih tahu ya...Pluto masih kosong, belum ada yang nempatin. Kalian boleh ngapain aja di situ, terserah. Kalau berminat, nanti saya hubungi NASA suruh nyiapin pesawatnya :D.

Intinya, jadi public figure itu...wajib memberi contoh yang baik pada masyarakat. Hmmm..gak cuma buat public figure sih, tapi buat semuanya. Semua kelakuan buruk yang tayang di berbagai media, dengan intensitas melebihi sholat wajib, lama-lama akan dianggap wajar oleh masyarakat.  Sebenarnya inilah puncak bahayanya, sesuatu yang diulang-ulang akan tertanam dalam pikiran manusia. Itulah kenapa kita cenderung suka memakai produk yang sering nongol di iklan daripada yang enggak, padahal kualitas belum tentu lebih baik. Nggak heran tingkat kriminalitas dan perceraian meningkat, bullying merajalela, serta penyimpangan lebih sering kita temui dimana-mana.  Makanya, ini PR buat kita semua, sebisa mungkin jadilah contoh yang baik karena sadar atau nggak perilaku kita juga mempengaruhi perilaku orang di sekitar kita (Berarti aslinya, kita semua “public figure” donk, cuma beda cakupan pengaruhnya saja). Ini bukan bermaksud riya lho...cuma bermaksud baik menyeimbangkan tatanan dunia yang sekarang cenderung  lebih  berat pada sisi yang nggak benar.  Jadi mulai sekarang ingat ya, dengan bersikap baik, dampaknya tidak hanya lari kepada kita saja, tapi juga ke orang lain di sekitar. Semoga makin termotivasi untuk bersikap baik, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.. CU

Kamis, 03 November 2011

Bergantung pada yang pantas dijadikan tempat bergantung


Sekitar jam tiga sore saat otak mencapai titik jenuh karena pekerjaan, tiba-tiba saya teringat teman lama, teman seperjuangan waktu kuliah dulu yang sekarang bekerja di kota lain. Akhirnya saya putuskan untuk menanyakan kabarnya via chatting, “Woi,apa kabar? Besok pulang nggak pas lebaran haji?”, pertanyaan singkat tersebut tiba2 terlontar. Kebetulan kami satu kampung, dan saya berencana akan mampir ke rumahnya kalau dia juga pulang. Dia pun membalas, menceritakan kondisinya saat ini, dia baru saja putus dengan pacarnya. Mereka sudah berpacaran lebih dari tiga tahun. Saya ikut sedih karena tahu bagaimana perjalanan mereka dan betapa sahabat saya itu sering merencanakan masa depan dengan si mantan, terutama masalah pernikahan. Kata-kata putus asa mengalir dari sahabat saya, “Kalau nggak sama dia aku sama siapa lagi Yul, aku takut nggak bisa lagi nemu yang kayak dia”. Kata-kata itu menohok saya, jujur saya pernah mengatakan kata-kata serupa berbulan-bulan yang lalu.
                Kasus kami sebenarnya hampir mirip, kami sama-sama tergantung pada seseorang yang sebenarnya nggak pantas untung dijadikan tempat bergantung. Butuh waktu yang lama sampai akhirnya saya sadar dan berani melangkah meninggalkan ketergantungan itu.  Setiap kali saya ingat itu, saya cuma bisa istighfar. Bagaimana mungkin saya bisa su’udzon begitu sama Allah. Allah yang selama ini berbaik hati pada saya dan memberi saya segalanya, kemudian saya lebih memilik hal lain (dalam hal ini makhluk-Nya) untuk menggantikan-Nya sebagai tempat bergantung. Mungkin tujuan saya benar, tapi cara untuk mencapainya masih salah. Pantas saja Allah murka pada saya, dan ketergantungan saya juga hanya berujung pada rasa kecewa.
                Maafkan kami Ya Allah, gantikanlah  kehilangan kami dengan sebaik-baiknya pengganti.  Sekarang saya sadar bahwa di luar sana masih begitu banyak hal baik yang Allah ciptakan untuk saya. Allah itu Maha Kaya, dengan berkata “Saya rasa saya tidak akan menemukan orang seperti itu lagi” berarti kita mengolok-olok Allah, pesimis pada-Nya. Apa sih susahnya bagi Allah hanya untuk sekedar mengubah jalan nasib seseorang? Saya juga sadar, fokus pada sebuah musibah kecil hanya akan membutakan mata kita bahwa begitu banyak nikmat yang telah kita terima. Saya nggak mau jadi orang kufur.
                Oleh karena itu Ya Allah, bukalah mata hati kami. Biarkan kami menyadari semua nikmat yang telah Engkau berikan dan berilah kami kesempatan untuk mensyukurinya.  Biarkan kami sadar, bahwa kehilangan sedikit “cinta” dari seorang makhlukmu itu tidak berarti apa-apa. Di luar sana masih banyak Engkau tebarkan cinta yang jauh lebih tulus untuk kami melalui makhluk-Mu yang lain, seperti Ayah, Ibu, saudara, juga sahabat-sahabat yang tiada hentinya men-support kami. Kemudian Ya Allah, izinkan saya dan sahabat-sahabat saya menemukan pelabuhan lain, yang keberadaannya bukannya menjauhkan kami dari-Mu, tapi justru semakin membuat kami mencintai-Mu. Terima kasih Ya Allah karena Engkau masih mengingatkan kami, itu tandanya Engkau masih peduli J.

Senin, 31 Oktober 2011

Aktivitas manusia dan Kaitannya dengan sains


Meskipun nilai fisika saya selama sekolah cukup memprihatinkan, bukan berarti tidak ada materi yang membekas dalam cabang ilmu ini. Fisika, menurut saya, cukup aplikatif, kita dapat menemukan penerapannya dimanapun asal kita memperhatikan lingkungan sekitar. Salah satunya adalah Hukum Kelembaman atau inersia, yang intinya menyatakan bahwa segala sesuatu dalam alam ini cenderung mempertahankan keadaannya. Jika benda tersebut dalam keadaan bergerak, maka benda itu cenderung terus bergerak sampai ada gaya lain yang mempengaruhinya. Begitu juga sebaliknya, benda yg diam akan cenderung diam kecuali dipengaruhi gaya lain. Ada gambaran kan?
Hukum ini menjelaskan kenapa ada orang yang malas bergerak sedangkan di sisi lain ada orang yang nggak bisa diam. Orang yang terbiasa diam dan jarang bergerak, membutuhkan dorongan yang cukup luar biasa untuk membuatnya memulai suatu aktivitas. Saya yakin kebanyakan kita pernah mengalaminya. Saya sendiri sering begitu, saat liburan tiba, lebih senang bersantai-santai dibanding beres-beres kamar padahal sebelumnya saya sudah merencanakan banyak hal. Saya tahu menunda itu nggak bagus, tapi ya susaaaah banget untuk memulai. Biasanya setelah ‘konflik batin’ yang cukup lama, saya akhirnya mulai melakukan aktivitas yang ingin saya lakukan,seperti mencuci, belajar sesuatu, belanja, masak, ngepel, nguras bak mandi, beres2 dll. And guess what? Begitu saya memulai, ternyata cukup susah untuk menghentikannya. Selesai pekerjaan yang satu, saya tergerak untuk menyelesaikan yang lain juga. Dan Alhamdulillah semua rencana saya tunai dilakukan.
Jadi intinya, biasakan diri kita untuk selalu aktif, karena itu yang terbaik. Diri anda yang selalu aktif akan susah untuk diam, dan hidup Anda pun akan lebih produktif. Jangan biarkan celah kemalasan masuk dalam diri Anda, karena begitu dia datang, butuh tenaga yang besar untuk mengusirnya.
Oiya, satu lagi…kalau memang hukum inersia itu benar, kenapa lebih banyak orang yang cenderung malas daripada cenderung aktif? Harusnya fifty-fifty kan?
Satu hal yang pasti, setan nggak henti-hentinya mengompori manusia untuk menjauhi kebaikan. Selain hal itu, ada satu hukum terkait termodinamika yang berperan, dahulu pernah dikemukakan Josiah Willard Gibbs. Segala sesuatu di alam cenderung dalam keadaan entalpi rendah dan entropi tinggi.
Keterangan:
Entalpi secara sederhana adalah energy yang terkandung dalam segala sesuatu ditambah energi yang dilakukan untuk melakukan kerja
Entropi sederhananya merupakan derajat atau tingkat ketidakberaturan
Maaf banget harus menyinggung hal ribet semacam itu. Tapi disinilah letak pokok permasalahannya. Manusia sebagai bagian alam semesta, tidak luput dari hukum tersebut, cenderung berada pada keadaan dimana entalpi (baca:energy) rendah dan entalpi (baca:ketidakteraturan) tinggi.
Dari sini dapat kita lihat, pantas saja manusia cenderung malas dan diam serta susah diatur. Karena dalam keadaan itulah entalpi-nya rendah dan entropi-nya tinggi.
Sekilas hukum alam tampak tidak berpihak pada kita. Tapi di balik itu semua, ada makna yang bisa diambil. Untuk menjadi seseorang yang lebih baik, dibutuhkan kekuatan ekstra guna melawan kecenderungan-kecenderungan tersebut. Hanya manusia pilihan, yang punya kekuatan dan berani berbuat, yang bisa menjadi pemenang.
Alqur’an juga berkali-kali menerangkan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan susah payah dan lemah (Al Balad:4 dan Annisa:28), terbukti Alqur’an memang sejalan dengan sains. Hidup memang serba tidak menguntungkan, sudah dari sananya begitu. Tapi sekali lagi itu bukan alasan untuk pasrah. Sesuatu yang baik, apapun itu pasti butuh tekad dan kekuatan untuk mencapainya, there’s always  price to pay.
Tulisan ini dibuat bukan bermaksud untuk menggurui, sebagai bahan renungan saja agar kita terus semangat untuk berkarya. Tidak ada alasan untuk menjadi biasa-biasa, menjadi luar biasalah karena Allah sudah member bekal yang banyak sekali pada kita untuk melawan kecenderungan2 alam tersebut. Hanya mereka yang bisa melawan kecenderungan tersebut yang bisa jadi pemenang..C.U.

Senin, 17 Oktober 2011

Art of Manipulating


         Maaf kalau judulnya rada kontroversial. Saya bukan ahli memanipulasi,  tapi hal ini tidak menghalangi saya untuk sedikit berbagi ilmu dalam hal “memanipulasi” orang. Memanipulasi??? No way..yang ngrasa masih waras mungkin banyak yang jawab gitu. Tunggu dulu, sebenarnya dalam berkomunikasi secara tak sadar kita sering “memanipulasi” orang agar maksud atau tujuan kita tersampaikan dan terpenuhi. Okelah kalau tujuannya baik. Masalahnya walaupun manusia pada dasarnya baik, ada juga yang punya penyakit di hatinya dan memanfaatkan orang untuk bertindak sesuai keinginannya. Nah, tips untuk menghindari hal inilah yang akan sedikit saya paparkan. Oh, iya, tulisan ini saya buat setelah membaca sebagian isi buku “Get  Anyone to do Anything” karangannya David J. Lieberman.
A. Cara mengetahui isi pikiran orang
         Cara yang saya maksud bukan seperti yg biasa dilakukan para mentalist semacam Dedy Corbuzier , jadi semua orang bisa mempraktekkannya.  Cara ini cukup dilakukan dengan bermodalkan ucapan. Dari sini diketahui apakah seseorang sedang menyembunyikan sesuatu, berusaha menipu Anda atau tidak. Yang perlu dilakukan adalah beri pertanyaan pada orang yang Anda curigai, tentunya yang tidak bernada menuduh, melainkan menyinggung pokok permasalahan yang ingin Anda ungkap.
Contoh kasus:
·       Seorang istri curiga bahwa suaminya telah berselingkuh. Si istri yang ingin mengetahui kebenarannya cukup bertanya “Sayang, kamu tahu rekan kerjaku Pak X  nggak, kayaknya dia selingkuh sama teman seruangannya deh..”. Setelah itu, tinggal dilihat reaksi si suami. Jika si suami mengajukan pertanyaan atau terlihat tertarik dengan topik itu, hampir bisa dipastikan dia innocent.  Tapiiii, kalo si suami tiba-tiba kelihatan nggak nyaman dan berusaha mengganti topic pembicaraan..bisa disimpulkan sendiri he feels guilty..Lihat aja gesture-nya, tubuh nggak bisa bohong kok.
     Cara ini hampir nggak ada efek sampingnya. Lain halnya jika si istri langsung menuduh. Jika si suami nggak bersalah, tuduhan hanya akan memperburuk kondisi rumah tangga mereka. Iya kan?
      Cara ini bisa diterapkan juga pada kasus lain seperti jika ada orang yang Anda anggap “menusuk dari belakang”. Pada kasus ini Anda bisa member pertanyaan pada si suspect,”Hey, sepupuku ngerasa ada yang nyebarin aibnya di belakangnya deh, kamu bisa kasih saran nggak buat sepupuku, biar si teman berhenti ngelakuin hal itu?”.Nah, gampang kan..jika si tersangka ngrasa salah, dia bakal kelihatan nggak nyaman. Kalaupun dugaan Anda meleset, nggak ada yang pihak manapun yang tersinggung. Oh ya, kalau bisa buatlah perkataan Anda senatural mungkin. Dan yang nggak kalah penting, sedikit kemampuan akting dibutuhkan di sini.
B.  Agar siapapun menyukai Anda
       Kayaknya siapapun butuh tips ini deh, terutama yang pekerjaannya membutuhkan skill nego yang tinggi.  Makanya saya ingin share tips ini yang notabene “basic rules” dalam pergaulan agar bisa disukai orang, tanpa “menjilat” tentunya (I hate sycophant).

·         Hukum pergaulan : Jika ingin disukai seseorang, bicaralah padanya saat perasaannya sedang baik, atau dia sedang senang akan sesuatu.
·        Sering menampakkan diri : Penelitian menyebutkan, semakin sering Anda berinteraksi dengan seseorang, semakin dia menyukai Anda.
·         Saling menyukai : Jika Anda ingin disukai seseorang, Anda harus tunjukkan padanya bahwa Anda menyukainya dan menghormatinya.
·         Persamaan : Persamaan dan kebersamaan itu, tak bisa dipungkiri menghasilkan rasa suka. Maka, jika Anda ingin seseorang menyukai Anda, usahakan perbanyak bicara mengenai hal yang sama-sama kalian sukai atau sesuatu yang sama-sama kalian miliki.
·         Cara menarik simpati seseorang : buatlah orang itu nyaman berada di dekat Anda
·         Menyesuaikan diri : Penyesuaian diri menciptakan kepercayaan dan  jembatan psikologis antara Anda dan orang lain. Hal yang bisa disesuaikan adalah sikap dan gerak tubuh serta gaya bicara.
·         Biarkan dia membantu Anda : Untuk membuat seseorang menyukai Anda buatlah ia melakukan sesuatu untuk Anda, bukan dengan Anda melakukan sesuatu untuk dia. Melakukan sesuatu untuknya memang sangat penting, tapi berdasarkan penelitian, hal yang membuat dia menyukai Anda adalah saat dia bisa melakukan sesuatu untuk Anda.
·         Saya hanyalah manusia biasa : Tampil terlalu sempurna tidak serta merta membuat Anda disukai. Justru dengan tampil apa adanya dan tidak terlalu “jaim” akan membuat orang merasa lebih dekat pada Anda.
·         Sikap positif : Percaya diri dan sikap positif terhadap hidup jelas akan membuat Anda menjadi magnet yang menarik perhatian orang. Sebaliknya sikap negatif seperti pemurung, suka mengeluh dll akan membuat orang enggan berada di dekat Anda.
     Nah, kayaknya udah lumayan banyak nih pembahasannya. Sebenarnya masih banyak hal lain yang menurut saya perlu dibahas, tapi berhubung keterbatasan waktu…saya pamit undur diri dulu. Jika ingin  tahu versi lengkapnya, silakan baca buku “Get  Anyone to do Anything” karangannya David J. Lieberman, atau “Agar Siapa Saja Mau Melakukan Apa Saja untuk Anda” untuk versi Bahasa Indonesianya. See you later,  semoga tulisan ini bermanfaat.. :)

Kamis, 06 Oktober 2011

Buat yang Lagi Sakit Hati


Rasa sakit hati itu, walaupun abstrak, tapi dampaknya bisa sangat besar. Sebenarnya justru keabstrakannya inilah yang patut diwaspadai. Banyak banget tindak kriminal sadis yang hanya berawal dari sakit hati. Kita mungkin saja nggak pernah sadar kalau begitu banyak orang yang sakit hati gara2 perkataan atau perbuatan kita. Bisa pula sebaliknya, kita mungkin secara tidak sadar masih menyimpan sakit hati pada seseorang yang kita anggap pernah menyakiti kita.
Berhubung saya orangnya sering mikir, saya sering mengira2 apa sih makna dibalik rasa sakit itu sendiri?
Sebaiknya saya mulai penjelasannya dari luka fisik yang nampak dulu. Rasa sakit secara fisik, menurut kesimpulan saya merupakan tanda bahwa ada bagian tubuh kita yang terluka, nggak bisa menjalankan fungsinya seperti biasa, sehingga harus dilindungi dan diobati agar nggak semakin parah dan nggak ada akses buat kuman masuk. Dengan adanya rasa sakit, treatment kita pada bagian tubuh itu juga jadi beda..diberi antiseptic lah, diperban, juga nggak dipake buat mengerjakan sesuatu yang berat2 agar lukanya nggak tambah parah.
Untungnya sel tubuh kita juga mempunyai kemampuan regenerasi yang bagus. Luka itu akan sembuh kembali dan rasa sakit akan hilang dalam waktu yang relatif singkat, kecuali ada gangguan seperti infeksi atau ketidaknormalan lain.  Luar biasa bukan? Orang yang nggak punya rasa sakit justru malah bahaya, dia bisa2 nggak sadar saat organ tubuhnya ada yg bermasalah dan nggak bisa menjalankan fungsinya seperti biasa.
Saya kira penjelasan di atas sudah cukup menggambarkan pentingnya rasa sakit secara fisik.
 Rasa sakit hati menurut saya jauh lebih complicated. Nggak kentara, obatnya nggak bisa dibeli di apotik dan kapan sembuhnya sangat bergantung pada pihak2 yg terlibat dalam proses terjadinya luka itu sendiri. Rasa sakit hati yang sebenarnya identik dengan emosi adalah salah satu mekanisme manusia untuk mempertahankan diri dan bisa juga merupakan indikasi adanya ketidakberesan perasaan dan pola pikir kita. Fungsinya nggak jauh dengan rasa sakit secara fisik..
Perbedaan terbesarnya adalah, rasa sakit hati lebih controllable. Nggak seperti rasa sakit fisik, yang kalo sakit ya sakit aja, saat orang lain menyakiti atau mengecewakan kita, kita sebenarnya bisa memilih untuk sakit atau tetap baik-baik saja. Susah memang, apalagi untuk tipe orang yang begitu sensitif dan pemikir serta sangat menjunjung tinggi harga dirinya.
Dalam berinteraksi dengan orang lain memang sulit sekali untuk tidak pernah terluka. Manusia, dengan kebesaran egonya sadar atau tidak seringkali menyakiti orang, baik yang dia lakukan benar atau salah. Memuaskan semua orang memang hal paling mustahil. Mungkin saja semakin baik seseorang, malah semakin banyak orang yang benci dan sakit hati. Seperti Nabi kita tercinta, yang mau tidak mau harus "menyakiti"  hati kaum kafir Quraisy yang nggak suka sama risalah yang beliau bawa. Mereka menganggap Nabi pembangkang dan penghianat karena berani menghina sesembahan nenek moyang. Makanya mereka nggak ada hentinya menyiksa beliau. Menghadapi siksaan semacam itu, normalnya orang pasti sakit hati kan? Diajak menuju kebenaran dengan jalan damai kok nyolot gitu...Tapi tidak dengan Nabi, beliau nggak pernah sakit hati dengan kelakuan orang yang selalu berusaha menyakitinya. Bahkan beliau pernah menjenguk dan mendoakan kesembuhan salah satu musuh yang sering melemparinya kotoran. Segala Puji bagi Allah, membicarakan keteladanan manusia satu ini memang nggak akan ada habisnya.
Alangkah senangnya kalau kita bisa menjadi figur seperti itu. Tanpa sakit hati yang berlebihan, hidup akan terasa jauh lebih indah. Rasa sakit hati yang berlebihan itu nggak ada gunanya, cuma jadi penyakit dan bikin hidup nggak tenang. Setiap hari yang dipikirkan adalah bagaimana agar rasa sakit hati kita terbalas. Yang rugi bukan orang yang kita benci, tapi kita sendiri. Selain buang-buang energi, memendam emosi macam itu juga nggak bagus dari segi kesehatan.
Saya baru-baru ini juga merasa tersakiti oleh seseorang. Prakteknya memang nggak segampang itu, melupakan hal buruk yang orang lain lakukan pada kita. Tapi saya berusaha untuk ikhlas. Kejadian itu terjadi bukan karena tanpa sebab. Allah pasti punya rencana lain, dan lagi, bisa saja keburukan yang kita terima merupakan hasil dari sikap buruk kita selama ini. Kuncinya memang ikhlas, sabar dan introspeksi. Yang sudah berlalu biarlah berlalu, biarkan hal itu menjadi pembelajaran agar kita lebih waspada ke depannya. Yakin deh, setelah mendung dan hujan, matahari akan kembali bersinar.
Bagi saya, orang yang terus meratapi masa lalu dan memupuk rasa sakit hati adalah orang yang paling nggak sayang sama diri sendiri. Dia nggak sadar kalau dia sedang menghancurkan dirinya perlahan-lahan karena setiap keburukan yang dipelihara pasti akan menarik keburukan lain.
Sesuatu yang sudah ditakdirkan terjadi memang tetap akan terjadi, tapi kita bisa memilih posisi kita, menjadi orang yang belajar darinya atau hancur karenanya. Inget lho, nggak ada sesuatu yang bisa menyakiti kita selama kita tidak mengijinkannya. Makanya, berikan shield terbaik buat diri kita agar kita tidak terluka. Ikhlaskan jika ada orang yang berbuat kurang baik pada kita, kita doakan semoga orang itu cepet sadar dan nggak adalagi orang yang sakit hati gara-gara dia. Sebenarnya menegur si pelaku secara baik-baik  juga perlu, apalagi jika ada indikasi ketidaksengajaan. Namun saya seringkali memilih diam, karena kultur tempat saya dibesarkan menganjurkan agar lebih banyak diam dan sabar, hehe.
Bagaimanapun saya masih belajar untuk bisa ikhlas atas apapun yang terjadi pada saya. Karena buah ikhlas itu sangat indah dan kita tidak akan pernah tahu seperti apa bentuknya sampai kita sendiri mendapatkannya. Satu lagi pelajaran yang saya dapat, kadangkala kita baru tahu kalau sesuatu hal bisa menyakiti hati begitu hal itu terjadi pada kita. Semoga ke depannya saya nggak melakukan hal itu pada orang lain agar nggak ada lagi orang yang terluka gara2 perbuatan saya.

Jumat, 30 September 2011

Penyakit Si Calon Ayah


Mungkin ada yang pernah denger, kalo ada seorang calon ayah yang ikutan mual-mual, berat badan turun, insomnia dll saat sang istri lagi hamil. Aneh banget kan..Kok bisa gitu sih? Fenomena ini namanya Couvade Syndrome. Ternyata persentasenya lumayan besar lho, sekitar 65% dari seluruh laki2 di dunia.
Kenapa sih hal ini bisa kejadian? Sampe saat ini belum ada kata sepakat dari para ilmuwan mengenai sebab pastinya. Tapi saya dapet satu uraian yang bagus mengenai sindrom ini dari buku Female Brain. Bagi yang ngrasa cewek, kayaknya perlu deh baca buku ini. Menurut si penulis, saat seorang wanita hamil, terdapat perubahan neurokimia dalam otak pasangannya berupa:
1.       Meningkatnya hormon proclatin sebanyak 20%. Hormon proclatin ini hormone “pengasuhan”. Ini bekal luar biasa yang diberikan pencipta kita untuk melindungi makhlukNya yang baru datang ke dunia.
2.       Meningkatnya kadar hormon stres kortisol. Peningkatan hormon ini ternyata meningkatkan kewaspadaan dan kepekaan. Fungsi  ini berkaitan dengan tugas si calon ayah untuk melindungi keluarganya, khususnya si calon anggota keluarga baru.
3.       Level testosterone (hormonnya cowok) calon ayah akan menurun, namun esterogen (hormonnya cewek) malah meningkat. Perubahan ini mendorong otak mereka untuk membentuk ikatan emosional dengan si bayi. Level testosterone yang rendah membuat mereka peka terhadap suara rendah seperti tangisan bayi meskipun tidak sepeka si ibu. Selain itu, rendahnya hormon ini juga menekan dorongan seks selama masa ini.

Nah, mungkin perubahan2 hormon dalam otak itu levelnya beda bagi tiap cowok. Bagi mereka yang peningkatan Proclatin-nya lebih banyak dan penurunan testosteronnya lebih signifikan dibanding kebanyakan cowok lain, Couvade Syndrome  cenderung terjadi.

Trus, sebenarnya apa sih pemicu utama dari perubahan senyawa kimia di otak cowok pada masa itu?
Diduga kuat pemicunya adalah feromon yang dikeluarkan si ibu. Secara diam2, bau yang dikeluarkan wanita hamil telah mendorong pasangannya untuk menjadi seorang ayah yang pengasih dan penyayang. Subhanallah banget deh…

(sumber: Female Brain-Louann Brizendine)

Senin, 22 Agustus 2011

Perempuan, sasaran empuk kapitalis



“Eh jeng, tas saya itu harganya 5 juta lho”, kata seorang ibu di tempat kerja saya sambil menunjuk tas kulit berwarna coklat yang tergeletak di pojok ruangan. “Waaah, tas mahal itu memang beda ya”, ibu yang lain menimpali. Lalu si ibu pemilik “tas 5 juta” menambahkan “besok deh saya bawain yang Gucci, soalnya saya sering ikut Dharma Wanita sih, di Dharma Wanita mana ada yang pake tas harga 1 jutaan…”
Dialog ibu-ibu tersebut memaksa saya melirik tas hitam yang sudah saya lima bulan lebih. Weits, 5 juta, 100 kali lipat harga tas saya. Gaji saya satu bulan pun tidak sampai segitu. Mungkin kelihatan  pathetic, tapi bagaimanapun saya bangga bisa bertahan menjadi diri sendiri, tidak menjadi korban kapitalis. Oh ya, saya sama sekali nggak sirik dan kalaupun saya diberi rejeki berlebih, lebih baik dipakai buat keperluan lain atau buat invest.
Saya sering heran mengapa manusia jaman sekarang yang notabene lebih pintar, terutama wanita, begitu gampang dicuci otaknya. “Gue pakai Hermes lho, handmade sih, jadi pesennya bisa bertahun-tahun..si Victoria Beckham aja pake, gue kan pengen kayak dia.” Mungkin ada fashionista yang berkomentar demikian.
Tapi apa benar dengan memakai Hermes anda serta merta jadi kayak Victoria Beckham?
Tetep jauh kaliii (maaf, realistis aja)..Anda tetaplah diri anda yang sekarang, dan pasangan   anda tidak pula tiba-tiba menyerupai David Beckham. Okelah kalau penghasilan anda besar, hal itu tak masalah. Namun bagaimana dengan yang berpenghasilan pas pasan, dibela2in kredit hanya demi membeli sebuah gengsi bernama Hermes, Luois Vuitton, Burberry, Mulberry? No comment deh. Bagi yang berpenghasilan lumayan pun, ada baiknya tidak terlalu ngoyo mengoleksi merek2 mahal tersebut, punya satu saja cukup, budget untuk membeli yang kedua, ketiga dan seterusnya bisa anda tabung, sumbangkan atau digunakan untuk hal2 lain yang lebih perlu. Benar kan?
Ini baru tas, teman..hanya sepersekian persen dari total kebutuhan para wanita modern. Bagaimana dengan make up, baju, aksesoris, makanan, gadget, kendaraan dll? Apakah niat anda dalam membeli kebutuhan berupa item2 tersebut semata-mata atas nama gengsi atau memang diperlukan. Jika anda lebih mengedepankan gengsi, anda benar2 patut dikasihani. Kalau tidak, selamat deh,..namun jangan keburu senang, anda sewaktu-waktu juga bisa menjadi seperti mereka.
Hmm, jika ditanya, hal apa yang paling adiktif di dunia ini.. saya pikir semua setuju dengan jawaban saya : materi. Hal ini benar adanya, sebanyak apapun materi yang kita punya, tak akan pernah cukup selama kita belum bisa bersyukur, selalu saja ada materi yang ingin kita kejar. Efek yang ditimbulkan sama dengan minum air laut, semakin diminum semakin haus dan akhirnya sampai batas tertentu akan membahayakan kesehatan si peminum. Demikian halnya dengan orang yang kecanduan materi, semakin lama kesehatan mentalnya semakin terancam.
Mengenai para pemilik brand-brand terkenal itu, saya tidak menyalahkan niat mereka mencari uang, hanya saja saya tidak setuju dengan cara mereka yang sengaja mencuci otak dan menanamkan mindset yang salah kepada si calon konsumen. Kebanyakan dari mereka bekerja sama dengan media, public figure, pengamat mode dan kadang penguasa, kolaborasi yang sangat manis. Alhasil siapa yang tidak memakai produk mereka akan dicap kampungan dan tidak modis. Siapa sih yang mau disebut demikian? Maka berlomba-lombalah orang mengekor mereka. Mungkin sebagian ada yang memilih produk branded karena mengedepankan kualitas, tapi saya sangsi ada berapa banyak sih orang yang berpikiran begitu, sisanya adalah tipe yang pertama karena kualitas barang lokal banyak yang tak kalah dengan produk asing. Sadarkah kalian, mereka para kapitalis itu hanya mengeruk uang kalian sebanyak2nya dan barang2 branded yang kalian banggakan lah mesin pengeruknya. Mereka tidak pernah peduli dengan kalian.
Orang yang diperbudak mode, tidak akan pernah menjalani hidupnya dengan tenang, otaknya selalu dipenuhi dengan hal-hal yang nggak penting seperti tas Prada dan Hand Phone keluaran baru, mobil yang dirasa sudah ketinggalan zaman karena sudah nggak ditayangkan iklannya, baju yang dirasa sudah tidak layak pakai karena sudah pernah dipakai lebih dari dua kali,etc. Mungkin contoh saya agak ekstrim, tapi percayalah hal itu memang terjadi, yang berbeda hanyalah kadarnya pada tiap-tiap orang. Tanpa sadar orang tipe tersebut mulai menjudge seseorang dari penampilannya dan apa yang ia pakai, bukan “isi” orang tersebut. Sebenarnya mereka juga melakukan hal yang sama terhadap diri mereka, merasa tidak PD dan kurang tanpa barang-barang branded. Itu artinya mereka menilai diri sendiri tidak lebih berharga dari barang-barang branded tersebut dan rela kehilangan jati diri mereka yang sebenarnya.

Pendukung Kapitalis
Saya pernah membaca sebuah buku karangan Philip van Munching. Di dalamnya ia mengibaratkan jika Hollywood adalah sebuah kedai es krim, maka kedai es krim itu hanya akan menjual es krim dengan satu rasa, vanilla. Buktinya bisa kita lihat di sampul majalah2 mode masa kini dimana wanita-wanita yang menjadi “dagangan” mereka pada hakikatnya sejenis, tipikal barbie. Persepsi mereka tentang wanita cantik itu ya tidak jauh dari yang berbadan tinggi, langsing, pirang, pinggang kecil, boo*s besar, pantat berisi, make up tebal dan tak ketinggalan rangkaian produk-produk keluaran rumah mode kelas dunia, mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut. Cantik itu seperti itu, dan para pria hanya akan menyukai wanita yang begitu, titik. Para wanita yang termakan propaganda itupun lupa betapa berharganya mereka. Mereka lupa, mereka diciptakan memang sudah dari sananya cantik hanya saja berbeda, baik dalam bentuk tubuh, warna kulit, rambut dan tentu saja daya tarik karena tiap individu pada dasarnya unik. Semuanya ingin menjadi sama seperti si cewek dalam sampul majalah.
Wanita yang sudah terdoktrin “cantik itu ya seperti barbie” akan rela merogoh uang berapa saja demi mendapatkan keinginan mereka. Inilah yang dimanfaatkan kapitalis, mereka mengeluarkan bermacam-macam produk perawatan tubuh dan pelangsing dengan iklan yang gencar dan persuasi yang berlebihan. Contohnya, produk penghilang selulit. Selulit itu hal yang sangat lazim dan bahkan para bintang hollywood pun memilikinya. Pokoknya selama jaringan lemak itu ada selulit akan hadir dan tidak ada cara yang dinilai cukup ampuh untuk menghilangkannya, setidaknya hingga saat ini. Itulah kenyataan yang dikemukakan para ilmuwan. Akan tetapi produsen obat penghilang selulit dimaksud mengabaikan fakta tersebut. Mereka berusaha menanamkan pikiran melalui iklan dll bahwa selulit itu mengurangi kecantikan seorang wanita dan produk merekalah yang paling ampuh untuk membasminya. Dengan ditambah iming2 diskon yang sebenarnya tidak pernah ada, maka berbondong-bondonglah para wanita membelinya. Karena memang tidak sesuai dengan fakta yang ada, maka produk itu tidak banyak membantu mewujudkan keinginan mereka memiliki kulit yang mulus tanpa selulit. Merekapun kesal, merasa selulit adalah kutukan. Baguslah, setidaknya mereka tidak akan berani memakai baju terbuka di tempat umum. Kalo masih nekat..capedeh. Hal yang sama terjadi dengan kasus produk pelangsing. Mindset yang ditanamkan si produsen dan antek2nya begitu berlebihan. Seorang yang sangat berpengaruh di dunia mode di Amerika sana bahkan pernah berkata “Tidak ada orang cantik yang gemuk”, Parah kan? Para rumah mode terkenal kemudian mengamini ucapan orang tersebut dengan hanya mengeluarkan size kecil untuk pakaian yang diproduksinya. Dengan demikian jika ingin memakai produk mereka, si konsumen tidak punya pilihan lain selain menjadi kurus (tentunya mempunyai banyak uang juga). Itulah mengapa sekarang banyak ditemukan kasus Anorexia Nervosa dan Bulimia. Na’udzubillah.

Menjadi Dirimu Sendiri
Saya benar-benar miris melihat saudara-saudara perempuan saya menjadi budak kapitalis. Menurut saya hal seperti ini sudah bisa dikategorikan sebagai penyakit mental, karena salah satu ciri penyakit mental adalah si penderita tidak merasa kalau dirinya sakit, tetapi orang lain dapat dengan jelas melihatnya. Seseorang yang menjadi budak mode susah dikritik atau diingatkan oleh orang lain mengenai sikapnya yang terlalu paranoid terhadap penampilan, bahkan cenderung menganggap aneh orang yang tidak sepaham dengan mereka.
Saya akui, saya bukan tipe orang yang menutup mata pada perkembangan mode. Seperti wanita lain, saya juga suka keindahan, dan bukanlah Allah mencintai keindahan?.. Tetapi ada baiknya kita lebih selektif, mana yang cocok dengan kita dan mana yang tidak. Dengarkan hati nurani, jangan hanya karena ingin dicap modis anda mengorbankan segalanya. Apa sih yang kita dapat dengan menjadi seorang penggila mode, mode akan terus berkembang nggak ada habisnya. Kita akan capek juga lama-lama. Lagi pula tidak semua jenis barang cocok dengan kita dan jika dipaksakan bukannya akan mengundang pujian, malah sindiran dan kasak-kusuk di belakang yang datang. Satu lagi teman, memanjakan mata orang lain dengan keindahan itu perlu, tapi memanjakan hati orang lain dengan akhlak yang baik juga tidak kalah pentingnya. Jadi daripada seluruh uang, waktu dan energi kita habis untuk mempermak penampilan luar, mari kita gunakan sebagian untuk memperbaiki penampilan kita dari dalam. Insya Allah kecantikan dari dalam itu yang hakiki, yang tidak akan luntur seiring berjalannya waktu layaknya kecantikan jasmani.